26 December 2011

Mengenang Tragedi Gempa dan Tsunami di Aceh

Minggu pagi, 26 Desember 2004, setelah bangun dari tidur aku tiduran lagi di depan tv sambil menonton film kartun kesukaanku, Doraemon, bersama adik dan kakak perempuanku. Pada saat itu umurku masih 11 tahun, kelas 1 SMP. Ketika sedang asyik menonton, tiba-tiba ibuku keluar dari kamarnya dan berteriak, “ehh, gempa, GEMPA naakk!!”


Kami pun langsung berlari keluar rumah. Pada waktu itu ayahku sedang tak ada di rumah. Di luar, kami duduk di depan pagar dekat jalan. Rasanya gempa waktu itu kencang sekali, sampai-sampai pohon-pohon yang ada di dekat rumah rasanya sujud semua, air di dalam got pun sampai keluar karena kuatnya guncangan gempa. Bahkan ada beberapa orang yang ketika gempa lewat di jalan naik motor pun jatuh terbanting dari motornya.

Itu pertama kalinya bagiku merasakan gempa bumi, bagi adik dan kakak ku juga. Waktu itu yang bisa terucap dari mulut kami hanya kalimat-kalimat Allah tak henti-hentinya. Takut, sangat takut.

Alhamdulillah setelah beberapa menit kemudian gempa berhenti. Kami pun masuk ke rumah untuk melihat-lihat keadaan di dalam rumah. Ayahku pulang. Alhamdulillah lagi, tak ada kerusakan yang parah di rumah, paling hanya tembok yang retak-retak sedikit. Karena kami belum makan pagi, ibuku membuatkan teh manis hangat untuk kami. Ayahku pergi lagi, ingin membelikan kue untuk kami, katanya.

Tidak lama setelah itu gempa lagi. kami pun keluar lagi dari rumah. Di luar aku melihat tetangga sebelah juga semua keluar ke jalan. Gempa berhenti.

Tiba-tiba ibu tetangga teriak dan menunjuk ke arah laut, “Jeh jeh JEH!! (jeh=itu, bahasa Aceh). Kami pun melihat ke arah yang di tunjuk ibu itu. Dari jauh aku melihat seperti ada asap hitam yang tinggi dan tebal. Asap itu rasanya berjalan ke arah kami, makin lama asapnya makin tinggi sampai pohon kelapa saja lewat. Tidak lama setelah itu asapnya turun dan merobohkan semua bangunan di depannya. Setelah itu aku baru sadar kalau itu bukan asap, itu gelombang air laut besar, TSUNAMI namanya. Baru saja aku pelajari seminggu yang lalu pada saat pelajaran Geografi di sekolah. Sungguh mengerikan.

Melihat orang dari arah pantai ada banyak yang berlarian, kami pun ikut lari. Aku lari paling depan, di belakang ada kakakku, dan di belakang lagi ada ibuku dan juga adikku. Ayahku entah dimana. Aku berlari sambil terus melihat ke belakang dan berteriak pada ibuku, “maaak, ayo mak, cepat maaak!!”

Belum jauh berlari, ada seorang bapak, aku kenal dia, penjaga kampus UNIDA di depan rumahku. Dia mengajak ku berlari bersama dan menyuruh ku melepas sendalku. Gemuruh air mulai terdengar dari belakang. Terdengar juga suara percikan listrik dari kabel-kabel listrik di samping jalan yang mulai putus dan tiangnya roboh satu persatu. Ku lihat di got dan sawah-sawah di samping jalan sudah hampir penuh dengan air. Aku takut sekali.

Setelah beberapa meter berlari, aku melihat ayahku datang naik motor, dan setelah ayahku dekat, aku langsung naik ke motornya. Ayah bertanya, “Mana mama?” aku melihat ke belakang mencari di mana ibuku dan juga adik dan kakakku, “Itu” tunjuk ku ke belakang. Ibuku seperti tak kuat lagi berlari, tapi Alhamdulillah sampai juga di tempat kami. Lalu kami semua pergi ke arah dataran yang lebih tinggi dengan sepeda motor. Bayangkan saja 1 motor dinaiki oleh 5 orang, tak pernah kami lakukan sebelumnya.

Di dalam perjalanan, kami semua terus dan tak henti-hentinya menyebutkan kalimah2 Allah. Dalam hati kami terus bertanya-tanya “Apakah ini KIAMAT yaa Allah?” Semua orang lalu-lalang di jalan, banyak orang-orang yang berlari-lari tanpa tujuan, ada juga yang mengemudikan kendaraan dengan sekencang-kencangnya. Banyak sekali kecelakaan di jalan pada saat itu.

Ayahku pun begitu, mungkin, aku pun tak sadar berapa kecepatan motor kami pada saat itu. yang ada dalam pikiran ayahku mungkin hanya harus ke mana menyelamatkan kami sekeluarga dari air bah itu. Kami pun akhirnya sampai di sebuah bukit di daerah Indrapuri, Aceh Besar. Kami berhenti di sana karena bensin motor telah habis, kalau belum mungkin entah sampai ke mana.

Pada saat itu kami hanya memakai pakaian rumah, ibuku hanya memakai daster, bahkan alas kaki pun sudah tak ada, kami tak punya apa-apa. Padahal kami belum makan pagi, tapi rasa lapar pun menghilang dengan sendirinya.

Di bukit itu kami masih merasakan gempa, berhenti sebentar, lalu gempa lagi. Begitu terus. Ditambah lagi seperti ada suara kontak senjata dari atas bukit sana. Maklum saja, pada masa itu Aceh masih dalam status Darurat Militer.

Setelah mendengar dari orang-orang bahwa sudah aman, kami sekeluarga kembali lagi ke kota. Di jalan banyak tenda-tenda darurat yang sebelumnya tak ada. Awalnya kami pikir itu adalah tenda bantuan tapi ternyata setelah melihat ke dalamnya ada banyak sekali mayat-mayat korban tsunami di sana. Innalillah.

Sore itu kami tak pulang ke rumah, kami menginap di rumah teman ibu di daerah Lampeunerut, Aceh Besar. Hanya ayahku yang mencoba pulang ke rumah untuk melihat keadaan karena mendengar bahwa air telah surut. Sebelum ayah pergi, ibu berpesan jika sudah tiba di rumah agar mengambil barang-barang berharga dan yang lainnya yang mungkin bisa digunakan.

Hampir magrib, ayah kembali, ayah berkata pada ibuku bahwa tak ada yang bisa diambil, rumah kita sudah rata dengan tanah, tak bersisa. Ibuku pun menangis. Kami sangat sedih. Sekarang kami tak punya apapun lagi, hanya ada baju yang melekat di badan...


Walaupun kami sudah tak punya apa pun, tapi kami sangat bersyukur karena keluarga kami semua selamat. Aku masih punya Ayah, Ibu, Adik, dan juga Kakakku. Alhamdulillah…

Memang tak bisa dengan mudah menerima semua ini. Bagaimana bisa hidup jika tak punya apa pun, tak punya rumah, harus tinggal dimana? Untunglah ada saudara yang membantu. Pasca tsunami kami tinggal di rumah nenek, masih di Banda Aceh. Namun banyak juga saudara yang meninggal dan tidak diketahui keberadaannya hingga kini karena kampung kami memang di daerah pesisir pantai, di Gampong Blang, kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Aku sering melihat orang tuaku menangis dalam shalatnya. Aku pun begitu. Ku akui kejadian tsunami ini menambah keimananku, aku jadi sering shalat dan mengaji.

1 minggu setelah tsunami aku datang ke sekolah karena seharusnya hari senin sehari setelah tsunami diadakan ujian semester, tapi sesampai disana tak ada seorangpun. Aku melihat di pintu masuk tertulis bahwa sekolah diliburkan sampai dengan tanggal yang belum bisa di tentukan.

Setelah 1 bulan tsunami, sekolah masuk lagi. Aku pergi ke sekolah dengan pakaian bebas karena tak punya seragam. Aku belum membeli seragam baru karena masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting untuk dibeli. Tapi di sekolah ku hanya sedikit yang tak pakai seragam karena sekolah ku memang tak terkena tsunami, rumah-rumah temanku pun banyak yang dekat dengan sekolah. Aku jadi merasa sedih terlebih setelah mendengar cerita dari temanku bahwa ada beberapa dari teman kami yang meninggal dunia.

Tapi yaa sudahlaah, tetap harus sabar dan bersyukur, pasti ada hikmah dibalik semua ini.

Hari ini tepat 7 tahun tsunami di Aceh. Memang tak terasa sudah 7 tahun berlalu. Cuma bisa berdoa, mudah-mudahan tidak ada lagi bencana di tanah tercinta ini. Amin ya Rabb...

35 comments:

  1. sedih akhh..., klo kembali mengingat-ingat.! :(,

    semoga kejadian yg lalu menjadi pembelajaran buat semua Aamiin...

    ReplyDelete
  2. kalau inget Tsunami Aceh masih merinding euy,soalnya memang dahsyat banget dampak dari bencana tsb sampai menyebar ke seluruh dunia
    Ada hikmah dibalik bencana,kini Aceh semakin mau terbuka dengan dunia luar positif'a
    Mudah2an Aceh sekarang & nanti bisa menjadi kota yang lebih baik lagi ya & mudah2an juga jangan ada lagi Tsunami dll di Indonesia tercinta ini,amien

    ReplyDelete
  3. Waktu lihat beritanya saat itu saja sudah sedih, dan sekarang aku malah membaca tulisan dari saksi hidup dari kejadian tersebut

    ReplyDelete
  4. jadi sedih baca postingan ini, teringat yg lalu :')

    ReplyDelete
  5. amiin.. semoga tidak ada lagi bencana di tanah air tercinta kita ini :)

    alhamdulillah dibalik bencana yg cukup dahsyat itu punya hikmah yg bisa di ambil .. jd lebih dekat denganNya :)

    ReplyDelete
  6. astagfirullahaladzim, serem banget pasti rasanya lari lari dikejar tsunami...
    follower saya banyak juga yang orang aceh dan kadang saya mau tanya langsung tentang kejadian tsunami sama mereka, tapi saya takut mereka tersinggung.
    jujur saya penasaran sekali, dan sekarang penasaran saya terobati karena kamu cerita banyak di postingan ini.
    jadi sekarang kamu masih tinggal di rumah nenek? oya, apa tsunami hanya memporak porandakan daerah pesisisrnya aja?

    ReplyDelete
  7. sabar aja mbak dan selalu berdoa pada yang DiAtas, moga aja diberi ketabahan dan kekuatan.
    Menghadapi cobaan seperti ini memang cukup sulit, dan meskipun harta keluarganya sudah rata dengan tanah, namun harta yang utama adalah keluarga itu sendiri :)

    ReplyDelete
  8. aku meneteskan airmata baca postingan ini..sedih banget..
    gemetar..ngebayangin kalo aku ngalamin kyak gitu.. *nauzubillah*

    tapi alhamdulillah yaa smua kluarga km slamat. harta bisa dicari. tp kluarga? dimana akan mencari? tetap semangat yaa!
    salam kenal dariku untuk semua^^

    ReplyDelete
  9. Kalo baca cerita tsunami sy masih suka nangis, bukan apa yg terbayang adalah dosa-dosaku sendiri... seperti semacam cambukan.

    kmarin waktu nonton film hafalan shalat delisa saya merinding saat scene sunami datang, saya tertegun... Allah maha kuat, sementara manusia jagonya sombong.

    Terimakasih untuk ceritanya. salam kenal :)

    ReplyDelete
  10. kami nan jauh ikut prihatin kejadian alam yang besar itu.mengenang semua saudara yang kena musibah, itu hanya ujian saudara,beruntung kalian dapat ujian dariNYA.semoga diberikan ketabahan

    ReplyDelete
  11. Ya Allah..
    serem bacanya.
    nggak bs ngebayangin kalo aku yg ada disana.
    Ya Allah, semoga musibah ini mampu mengingatkan kami betapa Maha Dahsyatnya Engkau, dan betapa kecilnya kami...
    :'(

    ReplyDelete
  12. Cerita yang Paling Bagus... yang pernah ku baca

    ReplyDelete
  13. bah, sedih kak ngebacanya
    semoga saja emang tidak ada lagi kejadian begituan yak
    dan alhamdulillahnya kknya enggak surut untuk ngeblog

    tq for this story
    eh btw baru kemari ikut jalin persahabatn yak
    sama ijin follow

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  14. Turut berbelasungkawa sedalamnya atas musibah Tsunami yang terjadi di Aceh 7 tahun silam.. semoga tidak ada lagi musibah itu terjadi di negeri kita ya..

    salam hangat buat saudara-saudara di Aceh dari Jember

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  15. saya bisa merasakan duka dan ketakutan itu. dan saya sampai hari ini masih mencari, apa hikmah di balik bencana itu? apa ya

    ReplyDelete
  16. oh iya.. 26 desember ya kejadiannya..

    selamat jalan buat para korban... moga do'a selalu terpanjat untuk mereka..

    ReplyDelete
  17. cerita yang sangat mengharukan., merinding aku baca'a ..
    keluarga pamanku kejadian'a juga sama seperti kamu. tinggal'a didaerah uleelheu. dan apa yg terjadi, rumaah'a hilang mayat'a entah dimana dan seperti apa kejadiannya WaAllahu alam,.

    kamu blogger yg HEBAT!

    ReplyDelete
  18. just by reading this makes me tremble, and can't imagine if I was actually in that kind of situation.

    You're a great blogger, you make me proud to be an Aceh-nese. May Allah protect Aceh, and it's people amin :3

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah Ya Mba Amelll...
    semua keluarganya selamat....

    terima kasih saya tadi membaca dengan berdebar.... saya tidak tahu apa yang terjadi dan rasanya pada saat itu terjadi,,,..

    ReplyDelete
  20. la terus sekarang neng nelva dan keluarga gimana ya??

    ReplyDelete
  21. Sedih bacanya. Nggak terasa sudah 7 tahun ya mbak. Semoga nggak terjadi bencana lagi, Amin ya Allah.
    Anyway keep posting ya mbak :)

    ReplyDelete
  22. Sedih sekali.. aku seperti terbawa ke saat itu terjadi. Benar2 menegangkan. Pasti berat sekali menjalani hari2 stlh tsunami. Smoga tak ada lg bencana di bumi kita ini.. Tetap semangat ya dek.. ^_^

    ReplyDelete
  23. tribute for the victims of the Tsunami Aceh... :(

    ReplyDelete
  24. SubhanaAllah walhamdulillah wala ilaha illaAllah Allahu Akbar.,laa haulaa walaa quwwata illa billahil'aliyyil adzim..,

    Tambah rajin shalat dan ibadah adalah hikmah luar biasa dibalik kejadian tsunami untuk penulis posting ini. Semoga Allah tidak memberikan bencana ini berulang kembali di tanah air tecinta ini. Amin...

    ReplyDelete
  25. Alhamdulillah rumah sudah dibangun lagi dan sekarang sudah tinggal di rumah sendiri lagi :)

    makasih semua yg udah baca dan makasih juga atas doanya...

    ReplyDelete
  26. Wah saya jadi merinding sendiri bacanya, seakan begitu nyata. Walaupun semua harta benda tak bersisa tp alhamdulilah keluarga masih bisa selamat. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, dan semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini.semangatt :)

    ReplyDelete
  27. sedih banget bacanya ;'( alhamdulillah, kamu dan sekeluarga masih bisa selamat dari tsunami:') walaupun saya hanya membaca tulisan kamu ini, saya seperti ada disana, saya gatau harus gimana kalau jadi kamu saat itu. semoga kamu sekeluarga selalu berada di dalam lindungan Allah swt. yaa.. amin ya Rabbal alamiin.. :))

    ReplyDelete
  28. bencana besar yang menggugah rasa kemanusiaan kita untuk lebih pdelu dan berbagi dengan sesama.
    mari kita bangkit dan menatap hari esok lebih baik lagi. :)

    ReplyDelete
  29. semoga kejadian di atas merupakan bencana terakhir di nusantara ini, amin2

    ReplyDelete
  30. Thank you for sharing your story on the actual event of the tsunami 7 years ago. Saya bertandang ke Banda Aceh kira2 dua minggu selepas tsunami melanda untuk menghulur sedikit bantuan kemanusiaan terutamanya kepada anak2 yatim. Hanya berada di sana untuk 4 hari tapi sudah cukup merasakan keinsafan dan tunduk kepada kebesaranNya. I had nightmares for quite sometime and just by looking through the pictures that I took, boleh terkenang kembali situasi darurat di sana.

    Entah kenapa, hati ini menjadi rindu untuk bertandang kembali ke Bumi Aceh. Untuk melihat dengan mata sendiri bagaimana Aceh bangkit kembali. Dalam perancangan untuk ke sana dalam tahun ini. Inshallah.

    ReplyDelete
  31. salam dari jogja untuk aceh..

    ReplyDelete
  32. hiks..sedih ngebaca nya, teringat waktu tsunami dulu, waktu itu aku masih kelas 1 sma, tapi Alhamdulillah aku tinggalnya di indrapuri, jadi sangat jauh dari banda aceh. Waktu itu hari ke 2 sesudah Tsunami aku pergi ke Banda Aceh, karna ada Saudara kami yang jadi korban Tsunami. Gak pernah sebelumnya ngelihat mayat2 yg begitu banyak. Paman saya dan satu anaknya sampai sekarang mayat nya tidak ketema juga,yang waktu itu inggal di Punge, tapi kami udah iklas semuanya. Mudah-mudahan ya Allah Aceh tidak lagi ada musibah.

    ReplyDelete
  33. makasih beu rayeuk taht cut kak,
    terus lah mengembang kan budaya aceh..

    ReplyDelete
  34. korban angka 270 ribu mereka tidak pergi dengan sia-sia , karena 270 ribu hingga dunia tersentak...karna itu Allah memilih aceh

    ReplyDelete